Langsung ke konten utama

Baru Daftar GuruGercep? Ini 3 Langkah Setup yang disarankan

A friendly digital illustration of an Indonesian teacher standing at the first step of a staircase made of three icons — a school building, a classroom, and a calendar — walking up towards a laptop showing a document being generated, flat vector style with soft gradients, high quality, 16:9 banner aspect ratio, warm and welcoming colors.

Ini yang paling sering bikin bingung guru yang baru pertama kali buka GuruGercep: sudah semangat mau langsung generate ATP atau RPM, eh ternyata muncul permintaan “pilih sekolah dulu” / “pilih rombel dulu”. Rasanya seperti nyasar — aplikasinya sudah dibuka bisa langsung generate ATP-TP, RPM, dan dokumen lain nya, namun disarankan untuk melakukan setup awal. Meskipun setup awal seperti nama sekolah, rombel, dan kaldik tidak wajib di kerjakan lebih dulu di aplikasi GuruGercep, namun 3 setup ini sangat disarankan, kenapa?

Jawabannya sederhana: GuruGercep memang sengaja meminta identitas dasar diisi lebih dulu, supaya setiap dokumen yang nanti dihasilkan — ATP, RPM, PROSEM, sampai Asesmen — otomatis punya kop yang benar, nama sekolah yang benar, dan pekan efektif yang benar, tanpa bapak/ibu guru harus mengetik ulang data yang sama berkali-kali di setiap dokumen.

Urutannya cuma tiga langkah, dan begini penjelasan masing-masing beserta alasannya.

1. Daftarkan Sekolah — Bukan Diketik Manual, Tapi Dicari dari Data Resmi

Langkah pertama dan direkomendasikan paling awal: mendaftarkan satuan pendidikan tempat bapak/ibu guru mengajar. Ini beda dari sekadar mengetik nama sekolah di kolom teks biasa — GuruGercep meminta sekolahnya dicari dari data resmi Kemendikdasmen, lewat dua tahap:

  • Pilih Kabupaten/Kota: ketik nama kab/kota tempat sekolah berada, misalnya “Jakarta Barat”.
  • Cari nama sekolah atau NPSN: setelah kab/kota terpilih, tinggal ketik sebagian nama sekolah (misal “SMP Negeri 1”) atau langsung ketik NPSN 8 digit kalau sudah hafal.

Begitu sekolah dipilih dari daftar resmi, nama sekolah, NPSN, alamat, sampai jenjang (SD/SMP/SMA/SMK, termasuk PKBM dan SLB yang otomatis masuk kategori nonformal) langsung terisi otomatis dan konsisten — tidak ada lagi risiko typo nama sekolah beda-beda di tiap dokumen yang dibuat. Satu NPSN cuma bisa didaftarkan sekali per akun, jadi tidak akan kedaftar dobel.

Setelah sekolah ketemu, tinggal lengkapi dua hal tambahan yang dipakai untuk kop dan lembar pengesahan dokumen: nama Kepala Sekolah beserta gelar dan NIP Kepala Sekolah. Kalau ini sekolah pertama yang didaftarkan, otomatis jadi “Sekolah Utama” — yaitu sekolah default yang dipakai di profil akun dan kop dokumen baru. Guru yang mengajar di lebih dari satu sekolah bisa mendaftarkan semuanya, lalu pilih salah satu sebagai utama.

Gambar 2 - Screenshot Form Daftar Sekolah
Gambar 2 - Screenshot Form Daftar Sekolah

2. Buka Rombel — Satu Kali Setup per Kelas, Dipakai untuk Semua Mapel

Setelah sekolah terdaftar, langkah kedua adalah membuka rombongan belajar (rombel) alias kelas tempat bapak/ibu guru mengajar. Rombel ini yang nanti jadi identitas ATP dan RPM — jadi harus ada dulu sebelum dokumen bisa dibuat.

Yang perlu diisi cuma empat:

  • Satuan pendidikan: pilih dari sekolah yang sudah didaftarkan di langkah 1. Kalau baru punya satu sekolah, otomatis kepilih.
  • Tahun ajaran: misalnya 2026/2027.
  • Jenjang & tingkat kelas: jenjang otomatis terisi dari sekolah yang dipilih (misalnya SMP), tinggal pilih tingkat kelasnya (Kelas VII, VIII, atau IX). Fase kurikulum (Fase D, dst.) otomatis mengikuti tingkat yang dipilih.
  • Nama rombel: cukup nama pendek, misalnya “A” atau “Mesin Produksi” untuk SMK. Nama lengkap seperti “Kelas VII-A” disusun otomatis, tidak perlu diketik ulang.

Gambar 3 - Screenshot Form Buka Rombel
Gambar 3 - Screenshot Form Buka Rombel

Satu hal yang penting dipahami: satu rombel boleh dipakai untuk banyak ATP dengan mata pelajaran berbeda. Jadi kalau bapak/ibu guru mengajar dua mapel di kelas yang sama, rombelnya cukup dibuka sekali saja — tidak perlu bikin rombel baru tiap ganti mapel. Sistem juga otomatis menolak kalau ada percobaan membuka rombel yang identitasnya (sekolah, nama, tingkat, tahun ajaran) sama persis dengan yang sudah ada, supaya tidak dobel. Identitas murid sendiri tidak disimpan di sini — rombel murni identitas kelas untuk kop dokumen.


3. Isi Kalender Pendidikan (Kaldik) — Dasar Hitung Pekan Efektif

Langkah terakhir yang direkomendasikan adalah sebelum generate dokumen pembelajaran (terutama PROSEM) adalah mengisi Kalender Pendidikan (Kaldik) untuk tahun ajaran yang dipakai. Kaldik inilah yang jadi dasar sistem menghitung berapa pekan efektif belajar di tiap semester untuk tiap tingkat kelas.

Begitu tahun ajaran dipilih, GuruGercep sudah menyiapkan kerangka pekan KBM standar sebagai titik awal — bapak/ibu guru tidak perlu menyusun kalender dari nol. Tinggal menandai pekan-pekan yang statusnya berubah jadi “Tidak efektif” (misalnya libur semester, hari besar, kegiatan sekolah seperti MOS atau HUT), lalu isi inisial dan keterangannya. Ada daftar inisial baku yang sudah disediakan, atau bisa isi inisial sendiri kalau kegiatannya spesifik untuk sekolah/daerah masing-masing.

Gambar 4 - Screenshot Editor Kaldik
Gambar 4 - Screenshot Editor Kaldik

Yang membedakan Kaldik GuruGercep dari kalender biasa: penandaan bisa dilakukan per tingkat kelas, bukan cuma satu kalender pukul rata untuk semua kelas. Jadi kalau ada kegiatan yang cuma memengaruhi kelas tertentu (misalnya kelas IX libur lebih awal karena ujian, sementara kelas VII dan VIII tetap KBM), itu bisa ditandai khusus untuk kelas tersebut saja — tidak ikut mengubah kelas lain. Ada juga fitur tarik-lepas (drag and drop) untuk menyalin status satu pekan ke pekan lain, biar tidak perlu klik satu-satu kalau polanya berulang.

Setelah kaldik tersimpan, sistem otomatis menghitung jumlah pekan efektif per semester untuk tiap tingkat kelas — angka inilah yang langsung dipakai saat menyusun PROSEM, tanpa perlu dihitung manual.

4. Setelah Tiga Langkah Ini, Semua Fitur Lain Tinggal Jalan

Begitu sekolah, rombel, dan kaldik tahun ajaran yang dipakai sudah lengkap, bapak/ibu guru tidak perlu mengulang setup ini lagi setiap mau bikin dokumen baru. Cukup:

  • Generate atau Impor ATP dengan tinggal memilih rombel dan mapel yang sudah ada.
  • Lanjut ke RPM per Tujuan Pembelajaran, kop dan identitas sudah otomatis mengikuti sekolah dan rombel yang dipilih.
  • PROSEM langsung memakai angka pekan efektif dari kaldik yang sudah diisi — tidak perlu hitung manual lagi.
  • Dokumen turunan lain seperti Asesmen, LKPD, hingga Bundel Supervisi juga otomatis mewarisi identitas yang sama.

Kalau tahun ajaran berganti, tinggal buka rombel baru dan isi kaldik untuk tahun ajaran itu — data sekolah yang sudah terdaftar tidak perlu diulang.

Kesimpulan

Permintaan “pilih sekolah dulu” atau “pilih rombel dulu” yang muncul saat pertama kali buka GuruGercep bukan penghalang, melainkan setup identitas satu kali di awal supaya semua dokumen yang dihasilkan nanti otomatis konsisten — kop benar, nama sekolah benar, dan pekan efektif terhitung otomatis. Urutannya cuma tiga: daftarkan sekolah dari data resmi Kemendikdasmen, buka rombel untuk kelas yang diajar, lalu isi kalender pendidikan untuk tahun ajaran yang dipakai. Setelah itu, seluruh alur GuruGercep — dari ATP, RPM, PROSEM, sampai dokumen turunan lainnya — tinggal jalan tanpa perlu mengetik ulang identitas yang sama berkali-kali.

Baru pertama kali buka GuruGercep dan belum setup sekolah?
👉 Mulai sekarang di https://gurugercep.id



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Panduan Praktis Menyusun ATP, RPM, dan Asesmen Kurikulum Merdeka Sesuai BSKAP 046/2025 (Anti Ribet untuk Guru)

Memasuki tahun ajaran baru, penyusunan perangkat ajar Kurikulum Merdeka sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi bapak/ibu guru di seluruh Indonesia. Mulai dari membedah Capaian Pembelajaran (CP), merumuskan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPM/Modul Ajar), hingga menyiapkan instrumen asesmen yang valid. Apalagi dengan berlakunya regulasi terbaru Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025, guru dituntut untuk menyelaraskan kembali elemen kompetensi murid secara berkesinambungan. Agar bapak/ibu guru tidak terjebak pada tumpukan administrasi yang menyita waktu mengajar, berikut adalah panduan praktis dan alur cerdas menyusun perangkat ajar Kurikulum Merdeka secara terpadu dan efisien. --- 1. Memahami Alur Utama: Dari CP Resmi Menuju Ruang Kelas Perangkat ajar Kurikulum Merdeka yang baik bukanlah kumpulan dokumen terpisah yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan rantai pedagogis yang saling menyambung: 1. Capaian Pembelajaran (CP) : Standa...

ATP Sudah Ada tapi Belum Bisa Lanjut RPM di GuruGercep? Begini Cara Impornya (Bukan Generate Ulang)

Ini kebingungan yang paling sering dialami guru yang baru pertama kali mencoba GuruGercep Asisten: ATP mereka sebenarnya sudah ada, sudah dipakai, bahkan sudah sah — sudah disusun sendiri, sudah ditandatangani kepala sekolah, atau sudah dipakai bertahun-tahun dan ingin digunakan lagi. Begitu masuk GuruGercep dan mau langsung lanjut bikin RPM, ternyata sistem minta ATP-nya harus ada dulu di dalam aplikasi. Masalahnya, opsi yang kelihatan tersedia cuma Generate ATP baru pakai AI. Padahal itu jelas bukan solusi — ATP hasil generate AI dari nol pasti tidak akan persis sama dengan ATP yang sudah disusun dan disahkan sebelumnya. Masa ATP yang sudah susah payah dibuat dan sudah sah harus disia-siakan cuma supaya bisa lanjut ke RPM? Inilah alasan utama menu Impor ATP & RPM dibuat. ATP yang sudah bapak/ibu guru miliki diimpor apa adanya — bukan digenerate ulang dari nol — lalu otomatis tersimpan ke arsip aplikasi, persis seperti ATP yang dibuat lewat menu Generate. Setelah itu, bapa...